Anugerah Sekolah Bertintegritas

JAKARTA--Sebanyak 503‎ kepala sekolah dari sekolah-sekolah dengan indeks integritas UN terbaik se-Indonesia dianugerahi penghargaan oleh Presiden Joko Widodo. 

Ke-503 kepsek tersebut berasal dari 24 provinsi, sehingga ada 10 provinsi yang tidak masuk dalam peringkat indeks integritas UN tertinggi

 

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, penghargaan ini merupakan reward bagi sekolah-sekolah yang menjaga integritasnya selama pelaksanaan UN.

"Kehadiran 503 kepala sekolah di Istana kemarin (21/12) yang menerima penghargaan langsung dari Presiden, menjadi salah satu bukti bahwa masih banyak sekolah yang memiliki integritas. Penilaian indeks integritas UN ini juga merupakan salah satu komponen penerjemahan revolusi mental yang menekankan prestasi tidak hanya prestasi akademik, tetapi juga prestasi kejujuran," papar Mendikbud, Selasa (22/12).

 

Dijelaskannya, sebenarnya yang diambil adalah kepala sekolah yang sekolahnya mendapat peringkat 500 teratas indeks integritas UN se-Indonesia. Namun dalam penilaian, ada tiga sekolah memiliki indeks integritas yang sama, sehingga total penerima penghargaan kepala sekolah dengan indeks integritas UN terbaik berjumlah 503. 

"Sebanyak 218 SMP dan MTs dengan indeks integritas 92-99. Lalu 150 SMA/MA dengan indeks integritas 92-99, dan 135 SMK dengan indeks integritas 93-99," tutur Menteri Anies.

Penilaian integritas ini, lanjutnya, diukur dengan melihat pola kerja sama dan pola kecurangan peserta didik di suatu sekolah dalam mengerjakan soal ujian nasional. "Angkanya (indeks integritas) nol sampai 100. Jika tidak ada kecurangan, angkanya 100. Jika terdapat 20 persen kecurangan, angka integritasnya 80. Kami tidak bisa mengukur kejujuran, tetapi bisa mengukur ketidakjujuran," tegasnya.

Dia menambahkan, metode penilaian integritas seperti itu sudah banyak dipraktikkan di berbagai negara.‎ Anies berharap tahun depan semua provinsi masuk 500 teratas indeks integritas UN.

Nilai-nilai integritas harus ditumbuhkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah.

“Kita lupa memberi perhatian pada nilai-nilai etika, budi pekerti, kejujuran dan integritas. Kita lupa sekian dekade. Anak-anak kita banyak terbuai oleh nilai-nilai barat. Padahal kita mempunyai nilai-nilai Indonesia, nilai-nilai Pancasila, nilai gotong royong dari budaya lama yang bertahun-tahun sudah kita jalani,” kata Presiden Joko Widodo ketika bersilaturahim dengan 503 Kepala Sekolah Penerima Anugerah Integritas Ujian Nasional terbaik selama lima tahun berturut-turut di Istana Negara, Senin 21 Desember 2015.

Rumah dan sekolah adalah arena pembelajaran terbaik dalam menumbuh kembangkan nilai-nilai integritas nilai-nilai kejujuran.

“Anak-anak kita akan mendapatkan pengenalan pertama  dari orang tua maupun anggota keluarga lainnya tentang nilai-nilai integritas. Anak-anak akan mendapatkan contoh-contoh pembelajaran karakter yang baik dari lingkungan keluarga mereka,” ucap Presiden.

Ketika memasuki usia sekolah, lanjut Presiden, anak-anak juga mendapatkan nilai-nilai tersebut bukan hanya dari proses belajar mengajar melainkan dari budaya perilaku  yang dikembangkan di sekolah. Presiden menceritakan pengalamannya ketika dirinya menjadi walikota dan gubernur. Saat itu dirinya ditanyakan oleh Kepala Dinas Pendidikan tentang target dari nilai Ujian Nasional yang harus dicapai dan  jika diberi target, Kepala Dinas Pendidikan dan jajarannya akan berusaha untuk mencapai nilai yang menjadi target tersebut.

“Nah ini berusaha yang tidak benar. Bekerja dengan saya bukan nilai UN yang dikedepankan,” ucap Presiden.

Presiden mengatakan apakah kita akan bangga dengan nilai UN yang sangat tinggi tapi melalui cara-cara yang tidak dapat dibanggakan. “Tidak, saya tidak mau cara seperti itu. Lupakan hal-hal seperti itu,” ujar Presiden.

Presiden mengingatkan bahwa kita harus kembali kepada sekolah yang mengajarkan nilai-nilai etika, budi pekerti, integritas, kejujuran, moralitas, kepantasan dan kepatutan, serta mengingatkan siswanya mana yang pantas dan tidak pantas.

“Kita ingin negara kita ini menjadi negara yang maju, negara yang besar dan memiliki martabat. Dan itu dimulai dari pendidikan yang bapak ibu berikan kepada anak didik kita. Meski baru dipetik 10-15 tahun,” ujar Presiden.

Kejujuran : Nilai Fundamental Bangun Karakter Bangsa

Presiden menggarisbawahi bahwa kejujuran adalah nilai fundamental dalam membangun karakter bangsa. Bangsa kita akan bisa menjadi bangsa yang besar dan dihormati oleh bangsa-bangsa yang lain, jika kita memiliki integritas yang tinggi, memiliki pemimpin yang jujur dan berintegritas, memiliki rakyat yang juga penuh dengan kejujuran dan berintegritas.

“Banyak bangsa, banyak negara harus mendapatkan takdir sejarahnya menjadi negara yang  gagal karena telah gagal pula untuk menjaga integritas, menjaga kejujuran bangsanya,” ucap Presiden.

Untuk itu, Presiden menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas integritas yang telah ditunjukkan para kepala sekolah dalam penyelenggaraan Ujian Nasional. “Bapak-ibu kepala sekolah ini yang telah menjadi contoh bagi bangsa dalam mendidik anak-anak kita,” kata Presiden.

Di tengah-tengah langkanya nilai-nilai integritas, ketika melihat masih ada ribuan sekolah yang menjunjung tinggi integritas ibarat mendapatkan sebuah oasis di tengah padang tandus. “Menjadikan mereka anak-anak yang jujur, berintegritas, menghargai usaha sendiri untuk mencapai prestasi,” kata Presiden.

Sekolah Tempat Membangun Karakter Bangsa

Meskipun penghargaan ini hanya didasarkan pada kejujuran dan integritas sekolah dalam penyelenggaraan Ujian Nasional, Presiden berharap para kepala sekolah ini akan menjaga kejujuran dan integritas sekolah dalam semua aspek kehidupan sekolah. “Jangan hanya ditambah dengan buku-buku yang semakin tebal sehingga  tas anak-anak kita semakin hari semakin berat, tapi anak-anak kita harus dibekali dengan pendidikan etika dan budi pekerti, pendidikan karakter, mentalitas, etos kerja yang baik yang sering kita lupakan. Jadikan sekolah sebagai tempat terbaik untuk membangun karakter bangsa,” ucap Presiden.

Bagi Presiden kejujuran adalah bagian paling fundamental dari pendidikan karakter. Oleh karena itu, sekolah harus menjadi zona jujur, zona yang berintegritas, zona di mana kecurangan merupakan perilaku yang tidak boleh ditoleransi. “Kejujuran bisa dikembangkan ketika mereka mengerjakan tugas-tugas sekolah, menempuh ujian maupun ketika anak-anak berinteraksi diluar kelas,” ucap Presiden.

Junjung Tinggi Kejujuran Buahkan Prestasi

Di akhir sambutan, Presiden menegaskan bahwa nomor satu adalah kejujuran, setelah itu kerja keras dan prestasi. Bila seluruh siswa menjunjung tinggi kejujuran dan kerja keras maka sudah pasti akan berbuah prestasi.

“Prestasi yang dilandasi dengan kejujuran dan kerja keras itulah yang akan membawa bangsa ini maju bukan hanya bangsa yang berdaulat dalam bidang politik, mandiri dalam bidang  ekonomi namun juga berkepribadian dalam kebudayaan, seperti yang kita cita-citakan bersama,” kata Presiden.

Copyright 2011 Anugerah Sekolah Bertintegritas . All Rights Reserved.
Joomla 1.7 templates